Menghindari missing font pada file .cdr

December 7, 2008

Bayangkan anda telah membuat desain yang sangat – sangat keren, sampai – sampai anda mengklaimnya sebagai karya terbaik anda selama anda hidup anda. Karena senangnya, anda berniat untuk menunjukkan desain anda kepada teman atau kolega anda. Anda copy file .cdr hasil desain anda tadi, kemudian anda bawa ke komputer teman anda. Ketika file itu dibuka di komputer teman anda, apa yang anda jumpai ? Pertama, anda melihat kotak dialog missing font, kemudian setelah anda klik OK apa yang terjadi. Ternyata desain yang anda anggap keren tadi menjadi desain yang amburadul karena font yang ada didalamnya tidak dideteksi alias komputer anda tidak mensupport font yang anda pakai dalam desain anda tersebut.
Kacau sekali rasanya …

Nah, itu sekilas saja masalah yang sering dijumpai oleh para desain grafis. Mungkin itu tadi hubungannya baru ke teman anda, tapi jangan diremehkan, nanti kalau sudah menyangkut hubungan kerja yang melibatkan deadline. Bagaimana nasib karir anda ?

Disetiap computer memang tidak mempunyai jumlah dan jenis font yang sama. Sama seperti kasus diatas, ketika anda membuat file desain dari corel draw, anda juga harus berhati hati dalam pemilihan jenis font yang digunakan. Siapa tahu ketika sudah siap cetak, komputer di percetakan tidak mendukung font seperti yang komputer anda punyai. Bisa berabe kan ???

Bisa saja sih anda ikut mengcopykan semua font yang anda gunakan ketika anda mendesain. Tapi apa tidak susah, kalau sudah bekerja dengan desain yang kompleks, dengan jenis font yang sangat bervariasi. Saya yakin anda pasti akan kesulitan untuk mengcopy font satu persatu. Lalu, adakah solusi yang lebih mudah ? ada, jawabnya.

Dalam tulisan kali ini, saya akan memberika tips agar desain anda sekeren apapun, dengan font jenis apapun akan tetap dikenali di komputer lain. Oke, kita mulai ke tips pertama,

1. Convert semua font ke dalam bentuk kurva

Untuk cara ini, semua teks yang anda buat akan dikenali sebagai sebuah kurva bukan sebuah font lagi. Jadi anda tidak perlu kuatir lagi akan adanya font yang missing.

Langkahnya :

Setelah desain jadi,
Seleksi semua teks, dengan cara Klik EditSelectText
Tekan Ctrl + Q
selesai.

Tapi, khusus untuk cara ini setelah teks di convert, anda sudah tidak bisa untuk mengedit kembali teks yang anda buat. Jadi, pertimbangkan baik – baik kapan anda harus mengconvert teks tersebut.

Kalau saya, biasanya saya buat 2 file. File pertama desain asli dan file kedua adalah desain yang teks nya sudah di convert. Jika desain dirasa sudah siap cetak, file yang diserahkan adalah file yang kedua.

Nah, bagaimana? Simpel kan.
Tapi, saya masih ada tips yang kedua. Yang pastinya tak kalah mudahnya …

2. Memanfaatkan Service Bureau

Anda tidak perlu mengconvert teks dalam desain file .cdr anda. Dengan cara ini anda dapat menyimpan desain dalam bentuk .cdr, lengkap dengan semua copy-an font yang anda gunakan, dan format .pdf nya. Semuanya tersimpan dalam satu folder.

Jika anda ingin membuka file .cdr nya, sebelumnya anda tinggal mengcopykan saja font yang telah disertakan bersama file .cdr tadi ke dalam folder Windows – Font. Lalu, file .cdr nya siap dibuka tanpa ada font yang missing.

Langkahnya :

Setelah desain jadi,

klik File
pilih Prepare for Service Bureau
klik opsi pertama
Klik Next
tandai Copy Fonts
Klik Next
tandai Generate pdf File (jika anda ingin menambahkan file dalam bentuk .pdf)
pilih lokasi dimana mau disimpan
Klik Next
Klik Finish

Oke, mungkin kedua tips itu yang dapat saya sampaikan kali ini. Semoga bermanfaat bagi teman – teman semua.

- Arif Qodari -

Desain poster pemilu ..

November 27, 2008

(sekedar coratcoret atau informasi bagi pembaca..)

Ketika membaca judul diatas, mungkin teman teman pembaca sekalian sudah bisa menebak apa maksud dari judul diatas. Bagi teman teman mahasiswa, PEMILU mungkin sudah tidak asing lagi bagi telinga kalian. Baik yang dilaksanakan di kampus atau dalam skala nasional sampai internasional. Namun, kali ini kita spesifik kan ke masalah PEMILU kampus. Dalam hal ini kita menyoroti media publikasi (kampanyenya) yaitu berupa poster. Tulisan ini terinspirasi oleh maraknya poster kampanye di kampus tercinta IT Telkom, yang saat ini memang sedang dalam masa kampanye pemilu BEM, DPM, dan Himpunan.

Ketika teman teman melihat poster berisikan kampanye seorang kandidat Presma (Presiden Mahasiswa), apa yang teman teman langsung pikirkan seketika itu juga? Kalo saya yang melihat, pikiran saya pasti langsung tertuju Siapa sih calonnnya? Yang mana orangnya? Kira kira aku kenal gak ya? Trus apa visi misinya? Apa latar belakangnya?”

Ya, memang kita harus tau semua itu. Kenapa? karena saya termasuk orang yang tidak menyianyiakan hak pilih. Masak kita mau milih pemimpin kita, tapi kita gak tau mana orangnya, aneh kan..

Berarti intinya ketika kita melihat poster, informasi informasi itu haruslah ada di dalam poster, tercetak dan terbaca dengan jelas oleh yang membacanya. (simpel kan?)

Nah, masalahnya kini yang aku temukan adalah poster poster kampanye tersebut serasa tidak lagi mengedepankan hal hal tadi. Hal hal berisi informasi yang seharusnya dapat disampaikan kepada pembaca, sehingga pembaca tertarik untuk memilih si kandidat di hari nya nanti.
Kenapa aku bilang begitu, karena kebanyakan desain poster yang aku temukan hanya mengedepankan sisi artistiknya saja, tetapi informasinya kurang jelas. kebanyakan si pembuat poster mengedepankan skill atau teknik pembuatan posternya (seolah olah ingin menunjukkan bahwa dia jago seni, jago membuat poster). Menurutku itu salah besar..

Sekarang kita kembalikan kepada tujuan utamanya, yaitu poster bermaksud menyampaikan informasi tentang si kandidat kepada publik. Berarti disini hal terpentingnya adalah informasi, seorang desainer grafis poster kampanye, harusnya mampu menghilangkan ego-nya untuk tidak egois memaksakan desain ini itu ke dalam desain posternya. Sampai sampai bisa dikatakanlatahdengan desain yang sedang marak saat ini.
Pemilihan warnanya yang ngejreng, tulisan yang bertumpuk tumpuk sehingga sulit dibaca, foto kandidat calon yang terlalu mengalami banyak efek sehingga malah membuat tidak jelas. (Ya, kalo fotonya tidak jelas mana bisa kita mengenali si calon).

Kalau kita bisa membuat sesuatu yang berbeda kenapa tidak. Kenapa harus mengekor desain sebelumnya. Tonjolkan sisi penyampaian informasinya. Oke. Menggunakan tipe desain yang sedangnge trend” memang tidak ada salahnya tetapi, suatu hal yang terpenting tadi adalah

Kalian sedang menyampaikan informasi kepada publik!”

Ini baru skala kampus lho, bagaimana jika sudah skala nasional Maksud hati ingin meramaikan pesta pemilihan umum, tetapi informasi yang disampaikan tidak jelas. Akhirnya berdampak pada kita juga akhirnya, masa kampanye tidak efektif, kita tidak mengenal calon pemimpin kita, trus tidak jelas juga bagaimana nasib kita kelak setelah dipimpin orang itu..
Harapannya, para desainer grafis tidak menjadi calon kambing hitam dari masalah yang bisa timbul di kemudian hari.

Oke para desainer grafis kampus, Bersemangatlah….

Arif Qodari